INFOEKSPRES.COM – Mimpi buruk yang muncul di usia paruh baya mungkin bukan sekadar kembang tidur.
Sebuah studi dalam jurnal The Lancet mengungkap keterkaitan antara mimpi buruk di usia paruh baya dengan demensia.
Studi yang dipimpin Dr Abidemi Otaiku dari Centre for Human Brain Health di University of Birmingham ini melibatkan lebih dari 600 orang dewasa di Amerika Serikat sebagai partisipan.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama studi berlangsung, para partisipan menjawab pertanyaan mengenai kesehatan fisik dan psikologis mereka.
Beberapa di antaranya berkisar mengenai seberapa stres para partisipan dan seberapa tinggi kadar stres serta kecemasan mereka.
Hasil studi menunjukkan, orang-orang berusia paruh baya, yaitu 35-64 tahun, yang sering bermimpi buruk saat tidur memiliki kemungkinan lebih besar terdiagnosis demensia di kemudian hari.
Baca Juga:
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Hubungan antara mimpi buruk dan demensia tetap terlihat kuat meski faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi kemunculan mimpi buruk dikesampingkan.
Seperti diketahui, salah satu faktor yang memengaruhi kemunculan mimpi buruk adalah kadar stres, kecemasan, atau depresi.
Semakin berat masalah-masalah tersebut, semakin sering pula mimpi buruk muncul.
“Ini mengindikasikan, mimpi dan demensia mungkin memiliki hubungan langsung pada sebagian orang,” ujar Dr Otaiku seperti dilansir dari laman HullLive, Senin 26 September 2022.
Baca Juga:
Side Akuisisi Studio “Games Art” Skala Kecil Roboto Entertainment guna Memperkuat Layanan Kreatif
Operasi Pelatihan HelpMeSee di Guwahati Menjangkau 51 Dokter Mata di Seluruh India Timur Laut
Dr Otaiku mengatakan, bagian otak yang meregulasi emosi di saat tubuh terjaga juga berperan dalam meregulasi emosi saat tubuh tertidur.
Karena itu, mimpi buruk yang muncul sebelum demensia terjadi bisa saja disebabkan neurodegenerasi pada bagian otak tersebut, yang biasanya berperan menurunkan emosi negatif di saat tubuh terjaga dan tidur.
“Kondisi ini bisa menyebabkan depresi dan kecemasan di saat terjaga, dan mimpi buruk di malam hari,” pungkas Dr Otaiku.
Menurut Dr Otaiku, mimpi buruk merupakan kondisi yang bisa diobati.
Bila mimpi buruk terkait demensia diobati, ada kemungkinan kemunculan demensia di kemudian hari bisa diperlambat atau bahkan dicegah.
“Teori saya, mimpi buruk yang berulang pada sebagian orang dewasa merupakan gejala penyakit Alzheimer atau demensia lain yang paling awal.”
“Yang bisa muncul beberapa tahun atau dekade sebelum masalah ingatan dan berpikir muncul,” ungkap Dr Otaiku.
Menurut Dr Otaiku, hanya sebagian kecil dari mimpi buruk yang mungkin berkaitan dengan demensia.
Mimpi buruk juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lain seperti stres, suasana hati yang muram, atau kecemasan.
Oleh karena itu, Dr Otaiku menyarankan orang-orang yang mengalami mimpi buruk tak perlu merasa khawatir yang berlebihan.***












