Home / Nasional

Jumat, 27 Mei 2022 - 10:04 WIB

Modus Kelompok Teroris Kumpulkan Dana, dengan Galang Dana untuk Aksi Kemanusian

Waspadai Pengumpulan Dana Teroris Berkedok Sumbangan Kemanusiaan. (Pixabay.com/TheDigitalWay)

Waspadai Pengumpulan Dana Teroris Berkedok Sumbangan Kemanusiaan. (Pixabay.com/TheDigitalWay)

INFO EKSPRES – Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen. Pol. Dr. Ahmad Ramadhan, S.H., M.H., M.Si., mengimbau agar mewaspadai modus pencarian dana yang dilakukan kelompok teroris.

“Berdasarkan hasil selidik dan sidik tindak pidana terorisme, ditemukan berbagai fenomena modus pengumpulan dana yang dilakukan oleh berbagai kelompok terorisme di Indonesia,” jelas Karo Penmas, Kamis 26 Mei 2022.

Karo Penmas menjelaskan, kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Anshor Daulah (AD) selaku pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Salah satu yang aktif menggalang dana dari masyarakat dengan berbagai modus.

“Dinamika perkembangan teknologi secara global juga memengaruhi modus pencarian dana yang dilakukan kelompok terorisme terutama kelompok JAD dan AD selaku pendukung ISIS,” katanya.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang, berinisial IA (23) Senin 23 Mei 2022 lalu, karena terlibat dalam menggalang dana untuk ISIS.

Baca Juga :  Prabowo Subianto Diantar Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc Hingga ke Pintu Mobil

Sebelumnya, Sabtu 14 Mei 2022 sebanyak 24 orang kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ditangkap di tiga wilayah berbeda juga menjadi pendukung ISIS.

Karo Penmas Divisi Humas Polri mengungkapkan, penggalangan dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan yang mendukung kegiatan teroris seperti pemberangkatan para pejihad ke medan pertempuran.

Pelatihan teroris, dan juga untuk mendukung persembunyian para buronan, serta pembelian senjata dan lain-lain.

“Masyarakat harus memahami bahwa ada penggalangan dana yang berkedok kemanusiaan yang juga merupakan afiliasi dari kelompok teroris,” ujarnya.

Adapun modus-modus pencarian dana yang dilakukan kelompok teroris, yakni secara luring maupun daring.

Secara luring, kegiatan penggalangan dana dilakukan dengan cara mencari sumbangan/donasi.

“Sumbangan atau donasi dilakukan dengan berbagai cara, baik menyumbangkan atau memberikan uang/aset yang dimiliki secara langsung kepada sesama anggota kelompok untuk melaksanakan rencana tindak pidana terorisme,” ujarnya.

Cara berikutnya, menjual aset pribadi. Aset pribadi merupakan salah satu cara untuk mendanai diri sendiri sebagai modal untuk melaksanakan kegiatan tindak pidana terorisme.

Baca Juga :  Menteri LHK akan Dilaporkan ke KPK, Diduga Sembunyikan Hasil Audit Lingkungan Blok Rokan

“Pada aspek ini cenderung digunakan untuk biaya hijrah, pergi ke luar negeri, baik ke Suriah maupun Filipina untuk bergabung dengan kelompok ISIS yang ada di sana,” katanya.

Kemudian dengan melakukan perampokan. Kelompok JAD dan AD mengenal istilah perampokan dengan sebutan fa’i.

“Mereka melakukan berbagai perampokan untuk mendapatkan dana, misalnya, kelompok Abu Roban pada 2013 melakukan berbagai perampokan di bank, kantor pos, dan toko bangunan,” katanya.

Pada tahun 2016, kelompok AD juga yang melakukan perampokan toko emas untuk biaya hijrah ke Suriah.

Sementara itu, kelompok MIT Poso cenderung melakukan pencurian kendaraan roda dua dan dijual, kemudian uangnya dikirimkan ke kelompok MIT yang berada di gunung.

Adapun penggalangan dana secara daring dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Teknologi yang seyogyanya bermanfaat positif bagi kehidupan manusia, adapula yang memanfaatkan secara negatif,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri.

Baca Juga :  BPOM RI Bongkar 2 Pabrik Tahu yang Mengandung Formalin di Parung Bogor

Ia menyebutkan, kelompok pendukung ISIS cenderung memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk melaksanakan tindak pidana pendanaan terorisme, di antaranya penggalangan dana atau crowdfunding.

Kelompok pendukung ISIS memanfaatkan media sosial untuk mencari sumbangan dari kelompoknya maupun masyarakat umum.

Dengan mengatasnamakan sosial agama dan pendidikan, dengan mudah mendapatkan dana yang tidak sedikit dan cepat.

“Ada juga sumbangan dari luar negeri. Pada tahun 2016 kelompok AD Surakarta mendapatkan kiriman dana dari Bahrunaim yang berada di Suriah untuk melaksanakan tindak pidana terorisme bom bunuh diri di Polres Surakarta,” ungkapnya.

Cara berikutnya lewat pinjaman online (pinjol). Pada tahun 2019 kelompok AD Jawa Barat melakukan berbagai pinjaman daring melalui berbagai jasa pinjol untuk mengumpulkan dana.

“Mereka mampu mendapatkan belasan juta rupiah dari pinjol,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri.***

 

Share :

Baca Juga

Nasional

Padati Depan Gedung DPR RI, Massa Aksi Buruh Pasang Spanduk Raksasa

Nasional

Terkait Kasus Penembakan Istri TNI, Kodam Diponegoro Buru dan akan Tangkap Kopda M

Nasional

Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Henry Surya, Bareskrim akan Periksa Alvin Lim

Nasional

Kotak Suara Kardus Dipakai Lagi, Sempat Digunakan Pemilu 2019 dan Pilkada 2020

Nasional

Minta Polisi Jadikan Istri Ferdy Sambo Tersangka, Ini Alasan Pengacara Keluarga Brigadir J

Nasional

Menteri LHK akan Dilaporkan ke KPK, Diduga Sembunyikan Hasil Audit Lingkungan Blok Rokan

Nasional

Merger Antar Perguruan Tinggi Jadi Solusi untuk Atasi Perguruan tinggi Swasta yang Tak Sehat

Nasional

Dosen Fisip UI Sebut Amandemen UUD 1945 Adalah Amandemen Konstitusi yang Paling Brutal