Home / Nasional

Sabtu, 17 September 2022 - 14:18 WIB

Musibah Wafatnya Santri di Ponpes Modern Gontor Disikapi dengan Proporsional dan Adil

Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf. (Dok. Dpr.go.id)

Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf. (Dok. Dpr.go.id)

INFO EKSPRES – Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf menyampaikan belasungkawa terhadap wafatnya salah satu santri Ponpes Modern Gontor Ponorogo yang diduga wafat akibat penganiayaan oleh pengurus organisasi di pesantren tersebut. Ia mengaku merasa prihatin dan sedih mendapati kabar tersebut.

Menurutnya peristiwa musibah ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi pimpinan dan seluruh keluarga besar Gontor.

“Teriring doa untuk almarhum agar diterima sebagai syuhada. Doa dan dukungan patut diberikan kepada keluarga serta institusi pesantren Gontor.
“supaya dapat melalui hari-hari yang penuh ujian ini dengan sabar, tabah, dan mampu menunjukan sikap terbaik p

aling bijak untuk hadirkan maslahat bagi semuanya sehingga lulus ujian dan naik ke maqam yang lebih tinggi lagi,” kata Bukhori melalui keterangan pers yang diterima, Selasa 13 September 2022.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyampaikan dukungannya kepada Ponpes Modern Gontor atas sikap tegasnya dan kesediaannya bersikap kooperatif demi penegakan hukum sehingga menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas pengelolaan santri.

“Sikap bijak pimpinan Gontor yang meminta maaf dan mengunjungi keluarga korban, disertai dengan sikap kooperatif Gontor yang bersedia bekerjasama dengan aparat penegak hukum dalam mengusut kasus kekerasan ini patut diapresiasi.”

“Atas itikad baik tersebut, maka kami juga meminta agar kasus tersebut tidak didramatisir, apalagi dipolitisir supaya nila setitik ini tidak merusak susu sebelanga Gontor yang sudah berumur hampir satu abad,” katanya.

Bukhori menambahkan, sekalipun kasus meninggalnya pelajar, mahasiswa, maupun santri bukan hanya terjadi di Gontor, pihaknya meminta semua pihak tetap berlaku adil.

Baca Juga :  Jokowi Ungkap Alasan Ingin BBM di Tetap Terjangkau dengan Berikan Subsidi dari APBN, Tetapi...

Bersikap secara proporsional, dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan serta tidak memunculkan opini liar sehingga memperkeruh suasana dan menjadi fitnah yang berakibat pada tidak terselesaikannya masalah.

Sementara, disinggung terkait dengan insiden kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok, Bukhori menilai Gontor memiliki sejarah yang sukses dalam penegakan disiplin santri.

Menurutnya, aturan di Gontor mengharamkan kekerasan fisik sehingga siapapun yang melakukannya akan dikenai sanksi hingga pengusiran dari pondok.

“Jika ada satu-dua kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya, dorongan untuk melakukan koreksi dan introspeksi patut disampaikan agar lembaga tersebut bisa segera berbenah untuk meningkatkan kelas dan kualitas.”

“Namun demikian, membesar-besarkan kasus tersebut untuk tujuan politisasi atau mendiskreditkan ponpes, tentu tidak bisa dibenarkan. Selain karena tidak adil, juga tidak proporsional dan tidak akan membantu mengatasi masalah,” tegasnya.

Bukhori khawatir penggalangan opini yang tendensius dan sikap tidak proporsional akan menuntun pada laku zalim dan stigmatisasi terhadap ponpes sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam, bahkan membuka ruang masuknya narasi islamophobia.

“Laku tidak proporsional dan tendensius bisa menjadi politisasi terhadap kasus ini.”

“Selain tidak membantu menyelesaikan masalah, hal tersebut juga dapat menciptakan stigma dan fitnah terhadap ponpes sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam,” ucapnya.

Anggota DPR lulusan Pondok Pesantren Tsamaratul Hidayah Jepara ini menegaskan, perilaku kekerasan bukanlah nilai atau budaya yang ditolerir dan ditumbuhkan di pondok pesantren, termasuk di Gontor.

Sebaliknya, proses belajar dan berkegiatan di pondok pesantren dilakukan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ada dalam kitab-kitab yang diajarkan di ponpes, juga kasih sayang dari keteladanan para Kiai serta pengasuh ponpes.

Baca Juga :  Tinjau Modern Rice Milling Plant Karawang, Puan Harap Bulog Bisa Serap Hasil Tani

“Budaya dasar di ponpes adalah ukhuwah (persaudaraan) dan bukan kekerasan. Buktinya, budaya tersebut berhasil mendidik para santri sehingga terhindar dari kekerasan dan kenakalan di kalangan remaja semisal tawuran, pengeroyokan, maupun perundungan. ”

“Pun, jika sampai terjadi kekerasan, jelas itu pelanggaran terhadap disiplin dan tradisi ponpes. Sementara, kekerasan yang terjadi di Gontor hampir bisa dipastikan itu adalah kecelakaan dan musibah yang tidak diinginkan apalagi ditolerir oleh Pesantren Gontor, sekalipun tetap harus dikritisi dan dikoreksi agar tak terulang dan demi kebaikan ponpes, para santri dan kiai,” tuturnya.

Bukhori menyatakan, terlepas dari insiden ‘kecelakaan’ yang menimpa Ponpes Gontor belakangan ini, Bukhori menilai Ponpes Gontor telah memiliki kiprah yang panjang seiring dengan perjalanan bangsa yang perlu diketahui publik.

“Di level kepemimpinan tingkat nasional, banyak para alumni Gontor yang dipercaya untuk duduk di sejumlah posisi strategis diantaranya sebagai Ketua PBNU, PP Muhammadiyah, Ketua MUI, Ketua MPR, Menteri Agama, Duta Besar, serta rektor.”

“Tidak hanya itu, Gontor juga melebarkan sayap kontribusinya melalui pendirian ponpes-ponpes baru yang diinisiasi oleh para alumninya,” jelasnya.

Untuk itu, Bukhori meminta publik tidak abai dengan jasa ponpes yang nyata dan terasa manfaatnya bagi masyarakat selama ini hanya karena satu dua kasus yang membelit institusi tersebut.

Lebih lanjut, Anggota DPR asal Jepara ini menegaskan, DPR tidak berpangku tangan terhadap sejumlah insiden yang terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan.

Salah satunya adalah dengan membentuk panitia kerja (panja) pengawasan pendidikan keagamaan di Komisi VIII DPR, dimana dirinya sendiri merupakan salah satu pihak pengusulnya.

Baca Juga :  Malaysia Keluarkan Edaran Syarat Masuk bagi WNI, Bisa Ditolak Jika Tak Penuhi Syarat

“Panja ini dibentuk bukan untuk menghukum, apalagi mencurigai ponpes dan lembaga pendidikan Islam lainnya, melainkan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan keagamaan dan hadirnya keadilan anggaran bagi ponpes serta lembaga pendidikan keagamaan Islam lainnya.”

“Peran DPR melalui panja ini adalah menjembatani aspirasi dari penyelenggara pendidikan keagamaan sekaligus mengadvokasi mereka agar memperoleh keadilan anggaran dari pemerintah. DPR juga berperan dalam membina para penyelenggara pendidikan keagamaan melalui fungsi advokasi, pengawasan, serta koreksi guna membantu menciptakan ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman bagi peserta didik,” terangnya.

Merespons wacana pencabutan izin Gontor, Bukhori mengatakan pihaknya tidak setuju dengan munculnya ancaman pencabutan izin ponpes Gontor oleh Kementerian Agama.

Dia meyakini pondok pesantren sekelas Gontor yang lebih tua usianya dari Republik Indonesia, tidak mentolerir dan mengajarkan kekerasan.

“Apalagi Gontor telah memiliki regulasi atau aturan yang ketat terkait larangan tindak kekerasan. Namun, apabila dengan berjalannya waktu regulasi atau aturan tersebut menjadi kurang efektif  atau kurang relevan, bisa dibantu dengan mengevaluasi dan memberikan masukan yang lebih baik dan solutif.”

“Kewajiban itu yang seharusnya dilakukan lebih dahulu oleh Kemenag,  bukan malah dengan mewacanakan ancaman pencabutan izin. Sebab Gontor sudah sangat banyak jasanya bagi umat, bangsa dan negara,” tegasnya.

Terakhir, Bukhori menambahkan, satu kasus yang terjadi ini hendaknya menjadi pelajaran tentang bagaimana berlaku bijak, adil, dan proporsional untuk kepentingan santri, kiai, pesantren, bangsa, dan negara,” pungkas legislator daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah I itu. ***

Share :

Baca Juga

Nasional

Menteri LHK akan Dilaporkan ke KPK, Diduga Sembunyikan Hasil Audit Lingkungan Blok Rokan

Nasional

Pemprov DKI Jakarta Pertimbangkan Pengaturan Waktu Kerja untuk Hindari Kemacetan

Nasional

Terkait Kasus Penembakan Istri TNI, Kodam Diponegoro Buru dan akan Tangkap Kopda M

Nasional

Polri Pastikan akan Berlanjut ke Klaster Lainnya, Obstruction of Justice Kasus Brigadir J

Nasional

Irjen Ferdy Sambo Akui Sebagai Dalang Pembunuhan Brigadir J, dan Halangi Penyidikan

Nasional

Willy Aditya Kirim Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi Terkait RUU Pendidikan Kedokteran

Nasional

Tercatat Ada 1.342 Masyarakat Indonesia yang Menetap di Negara Federasi Rusia

Nasional

Bahas Pertahanan Indonesia-AS, Menhan Prabowo Subianto Bertemu Menhan AS