Harga Pakan Ternak Sudah Terlalu Tinggi, Asosiasi Peternak Ayam Minta Turunkan Harga

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 27 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peternak Ayam Minta Harga Pakan Ternak Diturunkan. (Pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)

Peternak Ayam Minta Harga Pakan Ternak Diturunkan. (Pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)

INFO EKSPRES – Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (GOPAN) meminta agar harga pakan ternak diturunkan.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 087815557788.

Sekjen GOPAN) Sugeng Wahyudi menilsi harga pakan antara Rp8.600 hingga Rp9.30 per kilogram terlalu tinggi.

“Harga pakan harus diturunkan. Karena 25 persen harga pakan yang brolier ini berasal dari jagung, mestinya juga turun mengikuti harga pasar,” kata Sugeng, Senin 26 September 2022.

Ia menyarankan penurunan harga pakan ternak di kisaran Rp8.000 sampai Rp8.600 per kilogramnya.

“Ini yang menjadiharapan kita ke pelaku yang besar dan juga pemerintah. Persoalan ini juga sudah disampaikan dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan,” terangnya.

Selain itu, Sugeng juga menekankan pentingnya produksi terukur dari produksi turunan peternakan ayam tersebut.

“Produksi terukur ini untuk menjaga tidak terjadi over supply. supply-nya berapa, demand-nya juga berapa,” ucapnya.

Ia juga sependapat dengan pernyataan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang menyebut industri ayam di Indonesia hanya dikuasai oleh tiga perusahaan.

“Jadi memang industri perunggasan ini dikuasai oleh beberapa pelaku besar. Setidaknya ada empat sampai lima perusahaan besar,” ujarnya.

Menurut Sugeng, perusahaan besar itu sering disebut dengan perusahaan yang terintegrasi.

“Artinya mereka memiliki DOC (anak ayam)-nya, pabrik pakannya, obat-obatan untuk ayamnya, dan juga berbudi daya ayam broiler,” tuturnya.

Sedangkan pihaknya hanya berbudi daya ayam broiler saja. “Jadi perusahaan besar itu bermain dari hulu sampai hilir di industri perunggasan ini,” ujarnya menambahkan.

Bahkan, kata dia, ada perusahaan besar yang bermain di olahan dari industri perunggasan, meski jumlahnya belum banyak.

“Mereka membuat produk olahan seperti nugget, sosis dan lain sebagainya. Tapi itu mungkin hanya tiga hingga 4 persahaan,” jelasnya.

Sugeng menjelaskan bahwa keberadaan perusahaan-perusahaan seperti itu membuat peternak ayam makin tersingkirkan.

“Itu karena terjadi persaingan tidak sehat. Salah satunya karena pakan ternak masih tergantung dari mereka, ditambah lagi mereka juga bermain dalam pasar yang sama,” kata Sugeng mengakhiri.***

Berita Terkait

Inflasi Pangan 2,31 Persen, Distribusi SPHP Dinilai Efektif
Di Balik Kesuksesan Panen Raya Pertamina di Lahan Hutan
Komunikasi Visual Perusahaan Bertransformasi Lewat Galeri Foto Pers
Optimisme Pasar Modal RI Mencapai Level Tertinggi di CSA Index Agustus 2025
Cara Kerja Press Release Berbayar: Jaminan Publikasi dan Kendali Narasi Bisnis
Kesepakatan Dagang Trump–Prabowo: Komitmen US$ 20 Miliar & Tarif Baru
Kisah Liem Sioe Liong, Sang Imigran yang Menjadi Simbol Kapitalisme Orde Baru
Cabai Naik, Beras Turun: Harga Pangan Bergerak Acak di Tengah Tekanan Pasar

Berita Terkait

Selasa, 9 September 2025 - 08:05 WIB

Inflasi Pangan 2,31 Persen, Distribusi SPHP Dinilai Efektif

Jumat, 29 Agustus 2025 - 09:22 WIB

Di Balik Kesuksesan Panen Raya Pertamina di Lahan Hutan

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:08 WIB

Komunikasi Visual Perusahaan Bertransformasi Lewat Galeri Foto Pers

Selasa, 12 Agustus 2025 - 14:05 WIB

Optimisme Pasar Modal RI Mencapai Level Tertinggi di CSA Index Agustus 2025

Kamis, 7 Agustus 2025 - 06:11 WIB

Cara Kerja Press Release Berbayar: Jaminan Publikasi dan Kendali Narasi Bisnis

Berita Terbaru